Laman

Rabu, 23 November 2011

Betul Betul Kebangetan Orang Yang Masih Memilikinya Tapi Tak Bisa Mengantarkannya Ke Syurga

Salah seorang sahabat ra pernah datang kepada Rosulullah saw dan berkata,”Wahai Nabi, sungguh ibuku telah pikun lantaran tua. Akulah yang beri makan minum dengan tanganku. Aku pun mewudhuinya, mengangkatnya di atas bahuku. Sudahkah aku bayar semua jasa-jasanya untuk yang demikian itu?” “Belum,”jawab Rasulullah,”Sedikit pun belum. Bahkan satu persen sekali pun. Namun engkau telah berlaku baik. Allah akan memberimu pahala yang banyak atas amalmu yang sedikit itu.”
Read More..

Selasa, 22 November 2011

Bapak Tua Penjual Amplop Itu.......(True Story)

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.

Read More..

Senin, 21 November 2011

Subhanallah, Pasangan Tuna Netra Pencipta Al Quran Braille

Keterbatasan penglihatan tak membuat pasangan Hanik Indrawati, 34 tahun, dan Suharto, 40 tahun, berhenti berkarya. Bahkan pasangan yang menikah empat tahun lalu itu, kini menjadi satu-satunya di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia sebagai pasangan tuna netra pembuat Alquran dengan huruf braille.

Ketika Tempo mengunjungi rumahnya di kawasan Simo Pomahan Baru XII/15, Hanik yang ditemani suaminya sedang menyelesaikan pembuatan Alquran. Tanpa melihat, dengan cekatan jemari Hanik memencet-mencet sebuah mesin ketik kusus huruf braille kuno merek Parking Broiller bikinan Amerika tahun 1970.

Berbeda dengan mesin ketik kebanyakan, mesin ketik ini hanya memiliki tujuh tombol masing-masing tiga di kiri dan kanan dan satu tombol yang berukuran lebih besar di tengah berfungsi sebagai spasi. Mesin ketik ini juga tidak mengeluarkan huruf-huruf latin seperti mesin ketik kebanyakan melainkan hanya mengeluarkan titik demi titik khas huruf braille.

Tapi jangan salah, meski huruf braille yang diketik, tapi apa yang dilakukan Hanik siang itu bukanlah mengetik huruf latin melainkan mengetik huruf Arab versi braille. Huruf Arab versi braille ini misalnya kalimat Allah maka tulisannya berupa titik timbul : 1,123,6,123,4,15.

Untuk memastikan hasil ketikannya tidak salah, adalah tugas sang suami (Suharto) melakukan koreksi. Dengan sebuah alat bernama reglet atau alat untuk membuat titik timbul di kertas kembali lurus, Suharto dengan tekun memeriksa satu per satu hasil ketikan istrinya. “Nulis huruf Arab itu sulit mas. Soalnya selain huruf juga ada harokat jadi lebih rumit dan banyak titik,” kata Suharto

Pasangan yang menikah pada 29 Agustus 2004 itu mengaku menekuni pembuatan Alquran braille sejak dua tahun lalu. Menurut Hanik, dirinya sebenarnya sudah lama bisa mengetik huruf Arab. Hanya saja baru sekitar dua tahun lalu, dirinya diberkan kesempatan untuk membuat Alquran setelah mendapatkan pinjaman mesin ketik dari Yayasan Pendidikan Tunanetra Islam Karunia Surabaya (Yaptunik).

Yaptunik yang beralamatkan di Jalan Darmo Kali Gang Tugu surabaya itu merupakan yayasan tempat dulunya pasangan Hanik-Suharto bersekolah. Di sekolah inipula, kedua pasangan ini berkenalan untuk kemudian menikah.

Karena mesin ketik pinjaman dari yayasan, Hanik sendiri menjual Alquran ciptaannya melalui yayasan tersebut. “Saya hanya bisa mengetik, kalau untuk menjual saya tidak punya toko,” kata Hanik.

Tiap satu lembar Alquran ciptaannya, Yayasan membelinya Rp 400, atau Rp 20 ribu untuk tiap jus hasil ketikan Hanik. Selain membuat Alquran, khusus Ramadhan ini, Hanik mendapatkan pesanan surat-surat pendek, yasin, kumpulan doa serta tajwid yang harganya Rp 40 ribu per buku. “Saat puasa ini banyak pesanan, hampir sepanjang hari saya harus ngetik,” kata Hanik. Pangkalan Berita Unik

Sumber:vivanews.com
Read More..

Kamis, 17 November 2011

Inilah Alasan Rosulullah Melarang Ummatnya Minum Sambil Berdiri

Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”. Dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfinger. Sfinger adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum sambil berdiri. Air yang kita minum otomatis masuk tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itu terjadi pengendapan di saluran sepanjang perjalanan (ureter). Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.

Betul, penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sungguh berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing, jelas hal ini berhubungan dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi.

Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: "Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri". Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk."

Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lambat. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat azas darurat!

Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

Diriwayatkan ketika Rasulullah s.a.w. dirumah Aisyah r.a. sedang makan daging yang dikeringkan diatas talam sambil duduk bertekuk lutut, tiba-tiba masuk seorang perempuan yang keji mulut melihat Rasulullah s.a.w. duduk sedemikian itu lalu berkata: "Lihatlah orang itu duduk seperti budak." Maka dijawab oleh Rasulullah s.a.w.: "Saya seorang hamba, maka duduk seperti duduk budak dan makan seperti makan budak." Lalu Rasulullah s.a.w. mempersilakan wanita itu untuk makan. Adapun duduk bertelekan (bersandar kepada sesuatu) telah dilarang oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, "Sesungguhnya Aku tidak makan secara bertelekan" (HR Bukhar).

Sumber : situslakalaka.blogspot.com
Read More..

Inilah Suara Asli Bung Tomo Saat Menggelorakan Semangat 'MERDEKA Atau MATI'

Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang, sebelum mereka dilucuti tentara Sekutu.

Ketika gerakan melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober.

Read More..

Senin, 14 November 2011

Yakinlah Selalu Akan Doamu, Anak muda

Suatu hari, sebuah kisah mulia terjadi dan bermula dari suatu tempat yang sangat sederhana, Pangkalan becak. Seorang bapak tua tengah membersihkan keringatnya setelah seharian bekerja. Beliau adalah seorang tua yang berusia sekitar 75 tahun dan sudah lebih dari 35 tahun mencari nafkah dengan menarik becak. Sosoknya sangat sederhana dan murah senyum. Dikalangan teman- temannya, si bapak tua adalah seorang yang sangat disegani, karena kejujurannya.

ketika sore menjelang, ada seorang anak muda menaiki becaknya. Si anak muda adalah seorang yang kaya, terpelajar dan modern. Dia berniat datang ke kota tersebut untuk berekreasi dan melepas penatnya setelah lama bekerja di kota. Berjam- jam mereka berkeliling kota, sampai akhirnya adzan magrib pun berkumandang. Seketika, si bapak tua itu menghentikan becaknya di depan sebuah masjid, dan meminta ijin untuk sholat.

Setelah beberapa lama, mereka kemudian melanjutkan kembali acara jalan- jalan tadi. Dan, sampailah mereka pada sebuah warung kopi dipinggir jalan.

"Nak, apa bapak boleh minta ijin sebentar untuk buka puasa?"

" Bapak puasa? " Jawab anak muda tersebut dengan sedikit terkejut.

" Iya. sebentar saja, bapak ingin beli air dulu"

" Saya ikut sekalian pak. Kita minum kopi bareng. Saya yang traktir" Kata si anak muda dengan semangat.

Mereka berduapun akhirnya melepas lelah sambil ngobrol dan bersantai di warung tersebut.

" Kenapa bapak puasa tapi masih mengayuh becak?. Apa ndak capek?" Si anak muda memulai pembicaraan.

" Bapak sudah terbiasa insyaallah. Ndak apa- apa nak" Jawab pak tua singkat.

Waktupun terus berlalu. Banyak hal mereka bicarakan bersama malam itu. Dan melihat hari semakin malam, anak muda tersebut berniat pamit pulang. Dia mengucapkan terimakasih seraya memberikan uang sebagai ongkos naik becak. Tapi di luar dugaan, bapak tukang becak itu menolaknya.

" Ini kan ongkos buat bapak tadi setelah seharian mengantar saya." Kata anak muda itu kali ini dengan masih sangat heran

" Ndak nak, trimakasih" jawab bapak tua

" Maap apa masih kurang? Ok. Ini buat bapak semua" Tanyanya lagi sambil memberikan uang 2 ratus ribu.

"Maaf nak bukan begitu. Sebenarnya..."

" Kenapa pak? " Diapun buru- buru memotong perkataan itu.

" Maaf nak, bukan bapak tidak mau menerima. Tapi hari ini hari kamis nak, bapak tidak mau menerima uang dari siapapun yang naik becak bapak. "

" Kok bisa begitu pak?" Tanya si anak muda dengan lebih penasaran. "

"Bapak inikan orang miskin dan bodoh, tapi... sebenarnya bapak ingin naik haji. Semua orang memang mentertawakan bapak, mereka bilang bapak suka berkhayal. Lah wong, buat makan sehari hari saja tidak cukup apalagi naik haji. Akhirnya bapak cuma bisa minta sama Allah, karena bapak yakin Allah satu- satunya yang tidak akan mentertawakan bapak."

"Lalu..." si anak muda tidak dapat menghentikan rasa penasarannya.

"Kalau hari senin dan kamis bapak tidak akan meminta bayaran sedikitpun kalau ada orang yang naik becak. Bapak berniat sedekah dengan tenaga bapak itu. Bapak berharap suatu hari Allah melihat kesungguhan usaha ini dan akan mengabulkan doa bapak."

" Apa bapak yakin? "

" Kalau kita berharap pada makhluk, kita harus siap- siap untuk setiap saat kecewa, tapi kalau kita berharap hanya pada Allah, Dia adalah satu- satunya yang tidak pernah mengkhianati kita, nak. Kita harus Yakin dengan apa yang kita doakan dan cita- citakan, Insyaallah Allah tidak akan mengkhianati kita. "

Sejenak si anak muda tersebut terdiam. Benar- benar kali dia kehilangan walaupun hanya satu huruf saja untuk di ucapkan. Tak terasa, kopi yang disuguhkan dihadapannya telah dingin. Dan dia masih belum bisa mengatakan apapun. Setelah beberapa saat dia pamit pulang meninggalkan pasar yang ramai dengan hiruk pikuknya.

Setelah sampai di rumah, pikirannya kemudian di penuhi dengan seribu satu hal. Kata- kata bapak tukang becak itu begitu lugu dan natural namun sangat dalam baginya. Entah mengapa, seketika perasaan malu menyeruak melingkupi batinnya. Teringat padanya, bahwa dia selama ini yang selalu dalam gelimang harta dan kekayaan, namun sangat susah baginya untuk sekedar meluangkan waktu untuk mengingat tuhannya. Kesadarannya tiba- tiba muncul dan berkata bahwa ternyata selama ini, harta yang dia miliki hanyalah sekedar ujian baginya, dan sayangnya dia tidak berhasil dalam ujian itu, karena terbukti harta telah membuatnya jauh dari Allah sang maha Rahman.

Masih terngiang di kepalanya, ucapan bapak tukang becak tersebut. Herannya, dia bukanlah seorang profesor atau manusia yang mempunyai gelar terhormat, namun baru kali inilah, seorang yang lugu, sederhana, namun sangat sholeh, telah berhasil menyentuh hatinya.

Beberapa hari kemudian...

Si anak muda akhirnya telah kembali ke kota tersebut, dan kali ini dia berada di tengah- tengah pangkalan becak itu. Telah bulat tekadnya untuk menemui tukang becak tua yang dia jumpai beberapa hari lalu, untuk membicarakan sesuatu. Setelah beberapa jam mencari dan menunggu, maka bertemulah mereka berdua, masih di tempat warung kopi yang sama seperti dulu.

" Apakah bapak mau menemani saya?" tanya anak muda tersebut sambil tersenyum.

" Kemana nak?"

" Saya ingin mengajak bapak berhaji tahun ini"

Sumber www.voa-islam.com
Read More..

Rabu, 02 November 2011

Haji Revolusioner Dibutuhkan Umat

Dalam konteks sekarang, jiwa yang revolusiner itu idealnya tak mesti bergeser. Dalam studinya, orientalis Belanda Snouck Hurgronje memandang individu-individu yang dihasilkan dari haji, kelak bakal menjadi ancaman dan bencana besar bagi keberlangsungan imperialisme Belanda atas Indonesia. Kekhawatiran itu terasa, karena haji dianggap dapat membentuk jiwa yang revolusiner.

Sir ThomasStandford Raffles, dalam bukunya yang terkenal, History of Java, menulis: “Setiap orang Arab dari Makkah, begitu pula orang Jawa, yang kembali menunaikan ibadah haji di sana, diterima sebagai orang suci di Jawa, dan sikap cepat percaya dari kalangan orang awam sudah sedemikian rupa sehingga mereka sangat sering menghubungkan berbagai kekuatan dialami kepada pribadi-pribadi yang demikian. Sehingga tidak sulit bagi mereka membangkitkan negeri untuk memberontak.

Selanjutnya, Raffles menambahkan, “Para ulama Muhammedan hampir tanpa terkecuali ditemukan paling aktif dalam pemberontakan. Banyak dari mereka, umumnya keturunan campuran Arab dan orang pribumi, pindah dari satu negeri ke negeri lain di pulau-pulai bagian timur dan umumnya karena intrik-intrik dan desakan merekalah para pemimpin pribumi tersebut untuk menyerang atau membunuh orang-orang Eropa, sebagai orang kafir dan pengacau.”

Catatan Raffles itu menunjukkan betapa ia amat takut dengan orang yang bertitel haji, yakni orang yang telah digembleng di Makkah, memiliki kharisma, memiliki inspirasi (akibat interaksi dengan berbagai bangsa Muslim) untuk memberontak. Dalam perspektif Raffles yang kolonialis, orang-orang seperti itu harus diwaspadai, sebab mereka potensial menyebarkan benih-benih pemberontakan melawan kolonialisme. Catatan Raffles ini dibuat tatkala Inggris mempunyai kekuasaan penuh atas HIndia Timur 1811-1816.

Ketakutan Raffles menyebabkan ia menyetujui kebijakan politik yang melarang putra-putra Bupati yang sudah menunaikan ibadah haji di Mekkah, untuk menduduki jabatan administratif. Disini tampak, Raffles paham bahwa pengaruh internasionalisme haji, mampu merobohkan rencana-rencana kolonialisme Barat, yang saat itu tengah tumbuh dan menguasai di hampir seluruh dunia Timur.

Setelah menyelesaikan tugasnya di Jawa dan pindah ke Sumatera Barat, Raffles segera memihak golongan adat dalam konflik antara mereka dengan para ulama – yang disebutnya sebagai kaum padri, sebutan ulama yang kerap mengenakan jubah putih panjang dalam kesehariannya.

Bukan hanya Raffles yang menganggap haji sebagai bentuk revolusioner, melainkan juga Snouk Hurgonje yang ahli dalam mengamati perilaku orang Islam, terutama haji. Bahkan ia pernah menyatakan “masuk Islam” dan berhaji, kendati Snouck punya maksud-maksud tersembunyi dibalik perhatiannya terhadap Islam.

Snouck Hurgronje mengakui, ibadah haji dapat membangkitkan sikap kritis dan revolusiner terhadap penjajah. Itu karena jamaah haji telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa Muslim lain yang saat itu nyaris semua jajahan Barat. Dari hasil interaksi itu, mereka mendengar adanya gerakan Pan Islamisme, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menuju kemerdekaan Negara-negara Muslim, terbebaskan dari belenggu kolonialisme Barat. Gerakan yang bersifat internasional inilah yang paling ditakuti Raffles, orientalis Hurgronje dan penguasa Barat lainnya.

Hasil dari Mukim

Sejarah mencatat, tak sedikit orang Indonesia yang telah tinggal bertahun-tahun untuk menetap (mukim) di tanah suci Makah. Diantara semua bangsa yang berada di Makkah, orang “Jawah” (Asia Tenggara) merupakan salah satu kelompok terbesar dari jamaah haji. Selain karena syariat bagi yang mampu, perjalanan haji menjadi kawah candradimuka para raja Jawa dan ulama Nusantara untuk untuk mencari ilmu dan legitimasi politik. Bahkan sejak tahun 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua di Makkah setelah bahasa Arab.

Tak sedikit dari mereka yang memperdalam ilmu-ilmu Islam, baik fiqih, tasawuf, tarekat, metafisika hingga “ilmu ghaib” di Makkah maupun Madinah. Termasuk faham wahdat al-wujud. Walaupun Islam di Indonesia pada abad ke-17 diwarnai oleh pengaruh India, namun kedua kota suci itu (Makkah dan Madinah) tetap berpengaruh bagi mereka. Sebut saja Syeikh Yusuf Makassar yang ke Tanah Suci pada tahun 1644 dan baru kembali ke Indonesia sekitar tahun 1670.

Ketika kompeni Belanda campur tangan dalam urusan internal Banten dan membantu putra Sultan Ageng (Sultan Haji) untuk menyingkirkan ayahnya, lalu Yusuf Makassar membawa pengikutnya ke gunung dan memimpin perang gerilya melawan Belanda selama dua tahun, sampai ia ditangkap dan dibuang ke Selon (Sri Langka).

Ulama lain yang juga lama menetap dan memperdalam ilmu-ilmu agama (Islam) di Makkah dan Madinah adalah ‘Abd al Rauf Singkel, yang kemudian mencapai kedudukan tinggi di Aceh. Seperti diketahui, ‘Abd al Rauf Singkel dikenal sebagai pembawa tarekat Syattariyah ke Indonesia. Beliau pula yang menerjemahkan dan menyunting tafsir Jalalain dalam bahasa Melayu.

Pada masanya, Ibrahim al-Kurani (Guru Yusuf Makassar) adalah ulama besar di Madinah, dan murid-muridnya datang dari seluruh dunia. Melalui muridnya, ia mempengaruhi gerakan reformis pada abad ke-18 di berbagai Negara. Pada tahun 1722, ‘Abd al Samad al Falimbani, seorang ulama kelahiran Pelembang yang menetap di Makkah menulis surat kepada Sultan Hamengkubuwono I dan Susuhunan Prabu Jaka. Isinya, sebuah seruan untuk berjihad melawan penjajah Belanda.

Snouck Hurgronje mencatat bagaimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh tehadap Belanda, dan bagaimana mata mereka dibuka mengenai penjajahan Belanda, Inggris, dan Perancis atas bangsa-bangsa Islam. Ketika itu para haji hidup beberapa bulan dalam suasana anti kolonial.

Sumber www.voa-islam.com
Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...