Banyak manusia mengartikan bahwa kebahagiaan hidup akan terasa sangat sempurna saat kelezatan kemewahan itu sudah berada digenggaman. Ketika kemewahan hadir,maka kekayaan, kehormatan, dan kesenangan pun menglingkari hari-harinya. Ya, memang begitulah sifat manusia yang pasti menginginkan segalanya tercukupi, segalanya serba tersedia dan lengkap untuknya.
Namun sayangnya, banyak diantara mereka yang menghabiskan hari -harinya dengan begitu saja hanya untuk berpeluh demi menggapai semua itu. Bahkan ada yang sampai menghalalkan segala cara demi mengumpulkan harta atas rujukan gengsi dan nafsu mereka. Perlombaan mereka sungguh hebat dan dahsyat mulai dari yang menggelikan hingga yang begitu mengerikannya. Bahkan kemewahan hidup bisa menggiring manusia bertingkah polah lebih hina daripada hewan.
Sebuah kemewahan nyatanya menjadi magnet yang sangat ampuh dalam memberikan godaan dan melalaikan. Salah satunya adalah lewat penghormatan. Kemewahan memberikan mereka citra dan kebanggan tersendiri bagi para pemiliknya. Orangpun akan dianggap memandang segan kepadanya. Namun beberapa manusia tidak menyadari, betapa semunya semua itu. Penghormatan yang mereka dapatpun akan segera hilang seiring dengan terkikisnya kemewahan hidup mereka. Ketika diri tak lagi memiliki apapun, maka siapa yang akan memandang dan mengagungkannya. Sungguh sangat menyedihkan sekali.
Kemewahan telah menghipnotis mereka dalam tidur lelap diatas kasur yang empuk dan nyamannya ruangan, sehingga sholat malam merekapun berlalu begitu saja. Atau malah sebaliknya, kemewahan telah mencuri waktu berharga dalam istirahat mereka lewat insomnia. Mereka kesulitan bahkan untuk hanya sekedar tidur gara-gara takut kekayaannya diambil dicuri.
Kemewahan telah mengisolasi mereka dalam tingginya pagar rumah dan sempitnya hati, sehingga mereka merasa sudah sangat cukup dengan diri sendiri dan melupakan silaturahmi. Kasihan sekali, karena faktanya mereka adalah sendiri, dan hanya sendiri. Hanya ditemani harta mereka yang hanya sebuah benda mati.
Kemewahan telah menghabiskan investasi yang begitu berharga dalam hidupnya, waktu. Karena kemauan nafsu untuk terus mengumpulkan harta, maka jatah umur merekapun habis tanpa mereka menyadarinya. Waktu, sesuatu yang jika telah pergi tak akan pernah bisa kembali, dan sangat disayangkan ketika mereka sadar di akhir usia bahwa mereka telah menukar sikap mereka tersebut dengan sesuatu yang justru sangat lebih berharga dari kemewahan yang mereka perjuangkan. Kebersamaan, sikap rendah hati, dan kasih sayang nyatanya tidak terbeli oleh harta mereka.
Lalu mengapa kita lalu tidak mengubah pola pikir kita bahwa kekayaan adalah bukan segala-galanya.Mendewakan duniawi dan sebagainya hanyalah menjadikan kita budak. Ya, budak atas nafsu dan keinginan yang tidak akan pernah ada batasnya.Ketika manusia sudah dapat memenuhi sebuah jurang dengan kekayaannya, maka pasti mereka akan menginginkan jurang yang lain untuk terisi dengan hal yang sama.
Maka kesyukuran menjadikan kita pribadi yang bijak dalam keadaan kita bergelimang kemewahan atau kekurangan sekalipun. Ketika kita memiliki mobil,kita sangat bersyukur dibanding melihat yang berpanas-panas naik motor.Ketika naik motor kita bersyukur dibanding orang yang berpeluh karena mengayuh sepeda,Ketika naik sepeda kita bersyukur daripada orang yang berjalan kaki.Ketika berjalan kaki,kita bersyukur daripada melihat orang yang naik kursi roda dan didorong oleh seseorang dibelakangnya.hmmm..itulah hidup.
Memang segala- galanya butuh uang, tapi uang bukanlah segala-galanya. Dan ternyata banyak hal didunia ini justru terlalu banyak hal yang tidak bisa dibeli walaupun kita bergelimang kemewahan. Dan ternyata juga, kesyukuran atas apapun yang Allah berikan kepada kita menjadikan kita sangat tercukupi dan damai. Jangan berfikir bahwa hedonisme itu buruk dan anti hedonisme itu yang terbaik. Ada kalanya hedonisme itu menyenangkan,tetapi lebih menyenangkan lagi jika kita dapat mensyukuri karunia NYA dan dapat hidup sederhana nisacaya hal itu yang akan lebih kekal. Kehidupan hedonisme terkadang sangat mengenakkan untuk beberapa saat,tapi yakinlah hal itu takkan berlangsung lama.
sumber www.voa-islam.com
Read More..
Kamis, 14 April 2011
Kemewahan Tidak Selalunya Menyenangkan Dan Mendamaikan
Label:
Sosial
Senin, 11 April 2011
Anda Ingin Sehat? Berpikir Positif Dan Optimislah
Kebanyakan orang lebih gampang berpikir negatif dari pada mencoba untuk berpikir positif. Padahal pikiran negatif dapat mempengaruhi kondisi kesehatan. Mulailah belajar berpikir positif demi kesehatan.
Beberapa studi menunjukkan bahwa kepribadian optimisme dan pesimisme banyak berpengaruh pada kesehatan, proses penyembuhan penyakit dan kesejahteraan. Berpikir positif juga merupakan bagian penting dari manajemen stres yang efektif.
Berpikir positif tidak berarti seseorang harus selalu menyembunyikan kepala di dalam pasir dan mengabaikan situasi hidup yang kurang menyenangkan. Tetapi cukup dengan cara menghadapi hal yang tidak menyenangkan tersebut secara lebih positif dan produktif.
Mulailah berpikir dengan logika dan beralasan karena seringkali kesalahpahaman yang terjadi akibat kurangnya informasi.
Jika pikiran yang berjalan di kepala seseorang kebanyakan negatif, pandangannya terhadap kehidupan lebih mungkin pesimis. Dan kebalikannya, jika seseorang selalu berpikir positif maka ia akan cenderung optimis.
Manfaat kesehatan dari berpikir positif seperti dilansir Mayoclinic, meliputi:
1. Meningkatkan usia harapan hidup
2. Menurunkan tingkat depresi
3. Menurunkan tingkat stres
4. Memiliki efek perlawanan terhadap flu
5. Efek psikologis dan kesejahteraan fisik yang lebih baik
6. Mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler
7. Dapat memberikan kemampuan dan keterampilan yang baik untuk menghadapi stres.
Satu teori menyebutkan bahwa memiliki pandangan yang positif memungkinkan seseorang untuk mengatasi situasi stres dengan lebih baik, yang akhirnya dapat mengurangi efek kesehatan berbahaya dari stres pada tubuh.
Orang-orang yang berpikiran positif dan optimistis juga cenderung menjalani gaya hidup sehat dengan lebih banyak aktivitas fisik, mengikuti diet sehat, dan mengurangi tingkat merokok dan konsumsi alkohol.
Mulailah membuang pikiran-pikiran negatif dari kepala Anda, membuka diri untuk humor, persahabatan, dan cinta serta memperkuat keyakinan atau kepercayaan spiritual.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Beberapa studi menunjukkan bahwa kepribadian optimisme dan pesimisme banyak berpengaruh pada kesehatan, proses penyembuhan penyakit dan kesejahteraan. Berpikir positif juga merupakan bagian penting dari manajemen stres yang efektif.
Berpikir positif tidak berarti seseorang harus selalu menyembunyikan kepala di dalam pasir dan mengabaikan situasi hidup yang kurang menyenangkan. Tetapi cukup dengan cara menghadapi hal yang tidak menyenangkan tersebut secara lebih positif dan produktif.
Mulailah berpikir dengan logika dan beralasan karena seringkali kesalahpahaman yang terjadi akibat kurangnya informasi.
Jika pikiran yang berjalan di kepala seseorang kebanyakan negatif, pandangannya terhadap kehidupan lebih mungkin pesimis. Dan kebalikannya, jika seseorang selalu berpikir positif maka ia akan cenderung optimis.
Manfaat kesehatan dari berpikir positif seperti dilansir Mayoclinic, meliputi:
1. Meningkatkan usia harapan hidup
2. Menurunkan tingkat depresi
3. Menurunkan tingkat stres
4. Memiliki efek perlawanan terhadap flu
5. Efek psikologis dan kesejahteraan fisik yang lebih baik
6. Mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler
7. Dapat memberikan kemampuan dan keterampilan yang baik untuk menghadapi stres.
Satu teori menyebutkan bahwa memiliki pandangan yang positif memungkinkan seseorang untuk mengatasi situasi stres dengan lebih baik, yang akhirnya dapat mengurangi efek kesehatan berbahaya dari stres pada tubuh.
Orang-orang yang berpikiran positif dan optimistis juga cenderung menjalani gaya hidup sehat dengan lebih banyak aktivitas fisik, mengikuti diet sehat, dan mengurangi tingkat merokok dan konsumsi alkohol.
Mulailah membuang pikiran-pikiran negatif dari kepala Anda, membuka diri untuk humor, persahabatan, dan cinta serta memperkuat keyakinan atau kepercayaan spiritual.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Label:
Kesehatan
Kamis, 07 April 2011
Agar Anak Remaja Anda Tidak Salah Mencari Teman
Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan yang membuat anak menjadi labil. Pada usia ini anak sangat rentan dengan kenakalan remaja, tapi sebenarnya orangtua bisa membantu remaja agar tak salah mencari teman.
Teman sebaya sangat berpengaruh pada kehidupan remaja. Seorang teman secara signifikan dapat mempengaruhi performa akademis, kecenderungan untuk mengambil risiko dan menjalankan kehidupan secara keseluruhan. Itu sebabnya, teman yang baik juga bisa membuat remaja tumbuh dengan baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja lebih cenderung memiliki teman yang baik bila dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan tinggal di lingkungan yang berkualitas, seperti dilansir Physorg.com.
Pemantauan dan pengawasan orangtua juga terkait dengan cara remaja memilih teman, meski hal ini tidak konsisten.
Penelitian lain menunjukkan bahwa ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua agar anaknya yang tumbuh remaja tidak salah mencari teman, seperti dilansir eckerdacademy.org, yaitu sebagai berikut:
1. Bersifat terbuka dan hangat dengan remaja
Langkah ini sering terjadi sebelum seorang anak memasuki masa remaja, tapi sering terlewatkan justru ketika anak memasuki masa-masa yang labil. Remaja yang menikmati hubungan yang sehat dan terbuka dengan orangtua lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam aktivitas nakal dan lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti klub olahraga.
Hubungan orangtua dan remaja yang baik dapat digambarkan dengan berpartisipasi dalam kegiatan bersama, sering berkomunikasi dan mengungkapkan kasih sayang satu sama lain.
2. Menyediakan waktu untuk mengenal teman anak remaja Anda
Ketika orang tua berusaha untuk menjadi akrab dengan teman-teman anaknya, anak cenderung memilih teman-teman dengan karakteristik lebih pro-sosial, seperti ramah dan bersikap baik.
3. Ajarkan remaja perilaku adaptif
Anak-anak yang orangtuanya menekankan perilaku yang baik dan sopan santun dalam situasi sosial cenderung memilih teman-teman dengan pola perilaku yang sama. Itu karena mereka belajar untuk melihat sifat ini sebagai hal yang positif.
Ajarkan anak-anak untuk mengidentifikasi dan menghargai perilaku positif dalam diri orang lain juga membantu mereka untuk memilih teman dengan pola perilaku lebih yang diinginkan. Read More..
Teman sebaya sangat berpengaruh pada kehidupan remaja. Seorang teman secara signifikan dapat mempengaruhi performa akademis, kecenderungan untuk mengambil risiko dan menjalankan kehidupan secara keseluruhan. Itu sebabnya, teman yang baik juga bisa membuat remaja tumbuh dengan baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja lebih cenderung memiliki teman yang baik bila dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan tinggal di lingkungan yang berkualitas, seperti dilansir Physorg.com.
Pemantauan dan pengawasan orangtua juga terkait dengan cara remaja memilih teman, meski hal ini tidak konsisten.
Penelitian lain menunjukkan bahwa ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua agar anaknya yang tumbuh remaja tidak salah mencari teman, seperti dilansir eckerdacademy.org, yaitu sebagai berikut:
1. Bersifat terbuka dan hangat dengan remaja
Langkah ini sering terjadi sebelum seorang anak memasuki masa remaja, tapi sering terlewatkan justru ketika anak memasuki masa-masa yang labil. Remaja yang menikmati hubungan yang sehat dan terbuka dengan orangtua lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam aktivitas nakal dan lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti klub olahraga.
Hubungan orangtua dan remaja yang baik dapat digambarkan dengan berpartisipasi dalam kegiatan bersama, sering berkomunikasi dan mengungkapkan kasih sayang satu sama lain.
2. Menyediakan waktu untuk mengenal teman anak remaja Anda
Ketika orang tua berusaha untuk menjadi akrab dengan teman-teman anaknya, anak cenderung memilih teman-teman dengan karakteristik lebih pro-sosial, seperti ramah dan bersikap baik.
3. Ajarkan remaja perilaku adaptif
Anak-anak yang orangtuanya menekankan perilaku yang baik dan sopan santun dalam situasi sosial cenderung memilih teman-teman dengan pola perilaku yang sama. Itu karena mereka belajar untuk melihat sifat ini sebagai hal yang positif.
Ajarkan anak-anak untuk mengidentifikasi dan menghargai perilaku positif dalam diri orang lain juga membantu mereka untuk memilih teman dengan pola perilaku lebih yang diinginkan. Read More..
Label:
Pendidikan,
Sosial
Senin, 04 April 2011
Mengajarkan Hemat Kepada Anak-Anak Kita
Sebagian orang percaya, masa-masa remaja merupakan waktunya bersenang-senang dan menjajal berbagai pengalaman baru. Namun, usia remaja justru amat rawan dibombardir promosi barang-barang unik melalui majalah, televisi, dan godaan dari kawan-kawan sepergaulannya
Jangan khawatir, ibu-ibu. Mendidik anak agar dapat menjaga keuangannya bisa Anda latih sendiri, kok. Bahkan bisa diajarkan sejak anak masih kecil. Dengan begini, Anda tak perlu khawatir anak Anda boros saat dia beranjak dewasa. Berikut ini cara-caranya.
1. Ajarkan sejak dini
Walau anak belum memiliki pekerjaan dan menghasilkan uang sendiri, bukan berarti anak belum layak diajarkan cara mengatur keuangan. Mengenalkan metode uang saku mingguan atau bulanan sejak anak duduk di bangku sekolah dasar menjadi cara yang baik untuk menanamkan sifat hemat dalam diri si kecil hingga beranjak dewasa nanti.
Memberi uang jajan mingguan atau bulanan, anak akan belajar mengontrol pengeluarannya agar uang sakunya cukup hingga di akhir periode. Perlu diingat, sekeras apapun anak merajuk meminta uang saku tambahan, jangan tergoda untuk memberinya. Sekali Anda luluh, anak akan meminta lagi dan lagi.
2. No hardwork, no money
Jika pengeluaran anak lebih besar dari uang sakunya, ajarkan padanya bahwa di dunia ini tak ada yang cuma-cuma. Beri uang tambahan hanya jika sang buah hati membantu Anda melakukan pekerjaan rumah atau melakukan kegiatan lainnya. Tak hanya mengajarkan si kecil bahwa diperlukan kerja keras untuk menghasilkan kerja keras, tapi juga menanamkan sifat rajin membantu pekerjaan rumah.
3. Jangan dimanjakan
Tak banyak orang tua yang tega melihat anaknya menangis karena menginginkan mainan atau baju baru. Sebagian besar orang tua lebih memilih untuk menuruti segala kemauannya ketimbang berlama-lama melihat si kecil bersedih.
Tapi percayalah, tangisan si kecil tak akan lama, kok. Anak lebih mudah dialihkan perhatiannya dan membuat apa yang dia inginkan seketika terlupakan begitu saja.
Sebaliknya, jika Anda menuruti kemauannya, rengekan yang hanya berlangsung selama lima menit akan berbuntut sifat manja yang berlangsung selama bertahun-tahun.
4. Jadilah contoh
Sering pulang ke rumah membawa beberapa jinjingan belanjaan sekaligus atau rutin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan? Hati-hati, jangan sampai terlihat si kecil, karena kebiasaan ini dapat menjadi pemicu sifat boros. Orang tuanya saja boros, kenapa anak harus hemat?
5. Ajarkan anak selektif memilih harga
Jika barang yang diinginkan si kecil harganya terlalu mahal, ajarkan dia untuk mencari tempat yang menyediakan harga lebih murah. Jika perlu, ajarkan juga bahwa barang-barang berkualitas nomor 2 pun tak kalah bagusnya.
6. Ajukan sejumlah pertanyaan sebelum membeli
Jika anak meminta ijin untuk membeli sesuatu, ajukan sejumlah pertanyaan untuk meyakinkan jika benda yang dia inginkan memang berguna baginya. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apa uang sakumu cukup untuk membelinya?”, “apa kamu benar-benar membutuhkannya?”, dan “apa ada tempat lain yang jual lebih murah?”
Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan yang menguji keyakinannya, si kecil akan terlatih untuk bertanya pada diri sendiri sebelum dia mengeluarkan uang jajan.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Jangan khawatir, ibu-ibu. Mendidik anak agar dapat menjaga keuangannya bisa Anda latih sendiri, kok. Bahkan bisa diajarkan sejak anak masih kecil. Dengan begini, Anda tak perlu khawatir anak Anda boros saat dia beranjak dewasa. Berikut ini cara-caranya.
1. Ajarkan sejak dini
Walau anak belum memiliki pekerjaan dan menghasilkan uang sendiri, bukan berarti anak belum layak diajarkan cara mengatur keuangan. Mengenalkan metode uang saku mingguan atau bulanan sejak anak duduk di bangku sekolah dasar menjadi cara yang baik untuk menanamkan sifat hemat dalam diri si kecil hingga beranjak dewasa nanti.
Memberi uang jajan mingguan atau bulanan, anak akan belajar mengontrol pengeluarannya agar uang sakunya cukup hingga di akhir periode. Perlu diingat, sekeras apapun anak merajuk meminta uang saku tambahan, jangan tergoda untuk memberinya. Sekali Anda luluh, anak akan meminta lagi dan lagi.
2. No hardwork, no money
Jika pengeluaran anak lebih besar dari uang sakunya, ajarkan padanya bahwa di dunia ini tak ada yang cuma-cuma. Beri uang tambahan hanya jika sang buah hati membantu Anda melakukan pekerjaan rumah atau melakukan kegiatan lainnya. Tak hanya mengajarkan si kecil bahwa diperlukan kerja keras untuk menghasilkan kerja keras, tapi juga menanamkan sifat rajin membantu pekerjaan rumah.
3. Jangan dimanjakan
Tak banyak orang tua yang tega melihat anaknya menangis karena menginginkan mainan atau baju baru. Sebagian besar orang tua lebih memilih untuk menuruti segala kemauannya ketimbang berlama-lama melihat si kecil bersedih.
Tapi percayalah, tangisan si kecil tak akan lama, kok. Anak lebih mudah dialihkan perhatiannya dan membuat apa yang dia inginkan seketika terlupakan begitu saja.
Sebaliknya, jika Anda menuruti kemauannya, rengekan yang hanya berlangsung selama lima menit akan berbuntut sifat manja yang berlangsung selama bertahun-tahun.
4. Jadilah contoh
Sering pulang ke rumah membawa beberapa jinjingan belanjaan sekaligus atau rutin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan? Hati-hati, jangan sampai terlihat si kecil, karena kebiasaan ini dapat menjadi pemicu sifat boros. Orang tuanya saja boros, kenapa anak harus hemat?
5. Ajarkan anak selektif memilih harga
Jika barang yang diinginkan si kecil harganya terlalu mahal, ajarkan dia untuk mencari tempat yang menyediakan harga lebih murah. Jika perlu, ajarkan juga bahwa barang-barang berkualitas nomor 2 pun tak kalah bagusnya.
6. Ajukan sejumlah pertanyaan sebelum membeli
Jika anak meminta ijin untuk membeli sesuatu, ajukan sejumlah pertanyaan untuk meyakinkan jika benda yang dia inginkan memang berguna baginya. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apa uang sakumu cukup untuk membelinya?”, “apa kamu benar-benar membutuhkannya?”, dan “apa ada tempat lain yang jual lebih murah?”
Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan yang menguji keyakinannya, si kecil akan terlatih untuk bertanya pada diri sendiri sebelum dia mengeluarkan uang jajan.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Label:
Pendidikan
Senin, 28 Maret 2011
Mudah Mengantuk Mengindikasikan Anda Punya Bakat Gemuk
Seseorang yang sering mengantuk dan tampak lesu sepanjang hari punya risiko lebih tinggi untuk mengalami kegemukan. Sebab tanpa disadari, seseorang cenderung lebih sulit mengontrol pola makan saat berada dalam kondisi mengantuk.
Sering mengantuk dan tampak kurang bergairah menunjukkan bahwa seseorang terlalu banyak bergadang atau tidurnya kurang berkualitas. Pola tidur yang tidak sehat inilah yang akan memicu kegemukan, karena nafsu makannya jadi lebih tidak terkontrol.
Hubungan antara pola tidur dengan pola makan ini dibuktikan dalam sebuah penelitian di Columbia University, hasil kerjasama dengan New York Obesity Research Center. Hasilnya telah dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah di Atlanta baru-baru ini.
Dalam penelitian tersebut, tim ahli yang dipimpin oleh Marie-Pierre St-Onge, PhD melakukan eksperimen terhadap 13 pria dan 13 wanita. Seluruh partisipan yang dilibatkan adalah orang dewasa yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit
tertentu.
Eksperimen dilakukan 2 kali, masing-masing dibedakan berdasarkan waktu tidur yang diberikan.
Dikutip dari WebMD, Jumat (25/3/2011), eksperimen pertama mewajibkan partisipan untuk tidur selama 9 jam dalam sehari sementara pada eksperimen berikutnya para partisipan hanya boleh tidur selama 4 jam.
Hingga hari ke-4 pada masing-masing eksperimen, partisipan menjalankan diet yang sama dengan pola makan yang ditentukan oleh tim ahli. Sementara pada 2 hari terakhir, partisipan bebas menentukan sendiri jenis dan porsi makan sesuka hatinya.
Ketika dibandingkan, partisipan cenderung mengkonsumsi makanan dengan porsi sekitar 300 kalori lebih banyak saat hanya diberi kersempatan tidur 4 jam. Dengan kata lain, makin sedikit kesempatan untuk tidur maka porsi makannya cenderung lebih banyak.
Dibandingkan pada pria, pengaruh pola tidur terhadap pola makan lebih tampak pada wanita yang rata-rata mengkonsumsi 328,6 kalori lebih banyak saat kurang tidur. Kalori ekstra yang dikonsumsi pria ketika kurang tidur hanya sekitar 262,7 kalori.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Sering mengantuk dan tampak kurang bergairah menunjukkan bahwa seseorang terlalu banyak bergadang atau tidurnya kurang berkualitas. Pola tidur yang tidak sehat inilah yang akan memicu kegemukan, karena nafsu makannya jadi lebih tidak terkontrol.
Hubungan antara pola tidur dengan pola makan ini dibuktikan dalam sebuah penelitian di Columbia University, hasil kerjasama dengan New York Obesity Research Center. Hasilnya telah dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah di Atlanta baru-baru ini.
Dalam penelitian tersebut, tim ahli yang dipimpin oleh Marie-Pierre St-Onge, PhD melakukan eksperimen terhadap 13 pria dan 13 wanita. Seluruh partisipan yang dilibatkan adalah orang dewasa yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit
tertentu.
Eksperimen dilakukan 2 kali, masing-masing dibedakan berdasarkan waktu tidur yang diberikan.
Dikutip dari WebMD, Jumat (25/3/2011), eksperimen pertama mewajibkan partisipan untuk tidur selama 9 jam dalam sehari sementara pada eksperimen berikutnya para partisipan hanya boleh tidur selama 4 jam.
Hingga hari ke-4 pada masing-masing eksperimen, partisipan menjalankan diet yang sama dengan pola makan yang ditentukan oleh tim ahli. Sementara pada 2 hari terakhir, partisipan bebas menentukan sendiri jenis dan porsi makan sesuka hatinya.
Ketika dibandingkan, partisipan cenderung mengkonsumsi makanan dengan porsi sekitar 300 kalori lebih banyak saat hanya diberi kersempatan tidur 4 jam. Dengan kata lain, makin sedikit kesempatan untuk tidur maka porsi makannya cenderung lebih banyak.
Dibandingkan pada pria, pengaruh pola tidur terhadap pola makan lebih tampak pada wanita yang rata-rata mengkonsumsi 328,6 kalori lebih banyak saat kurang tidur. Kalori ekstra yang dikonsumsi pria ketika kurang tidur hanya sekitar 262,7 kalori.
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Label:
Kesehatan
Senin, 21 Maret 2011
10 Penyebab Utama Kemarahan di Kantor
SURVEI yang dilakukan oleh sebuah situs karier di Inggris menemukan 10 penyebab utama kemarahan di lingkungan kerja:
1. Manajemen yang buruk. Misalnya: staf disuruh melakukan sesuatu yang salah, perintah yang berubah-ubah, atasan yang selalu mengkritik bawahan, bawahan yang merasa jauh lebih baik daripada atasan.
2. Perlakuan tak adil. Misalnya: staf lain mengerjakan pekerjaan yang sama dengan gaji yang lebih besar, tak ada sanksi bagi staf yang melanggar peraturan.
3. Minimnya kesempatan berkembang. Pekerja dijanjikan kenaikan gaji, promosi atau proyek penting, namun tidak pernah terjadi.
4. Tidak dihargai. Pekerja tidak mendapatkan reward atas kinerja yang baik.
5. Overload. Pekerja tidak dapat mengikuti target dari atasan, karena target yang terlalu tinggi.
6. Masalah komputer. Misalnya: koneksi internet yang lambat, spesifikasi komputer yang ketinggalan jaman dan tidak sesuai kebutuhan.
7. Rekan kerja yang tidak jujur
8. Anak buah yang kurang cakap
9. Rekan kerja yang tidak sopan atau berperilaku kasar
10.Atasan yang menyalahgunakan kekuasaan.
Sumber metrotvnews.com Read More..
1. Manajemen yang buruk. Misalnya: staf disuruh melakukan sesuatu yang salah, perintah yang berubah-ubah, atasan yang selalu mengkritik bawahan, bawahan yang merasa jauh lebih baik daripada atasan.
2. Perlakuan tak adil. Misalnya: staf lain mengerjakan pekerjaan yang sama dengan gaji yang lebih besar, tak ada sanksi bagi staf yang melanggar peraturan.
3. Minimnya kesempatan berkembang. Pekerja dijanjikan kenaikan gaji, promosi atau proyek penting, namun tidak pernah terjadi.
4. Tidak dihargai. Pekerja tidak mendapatkan reward atas kinerja yang baik.
5. Overload. Pekerja tidak dapat mengikuti target dari atasan, karena target yang terlalu tinggi.
6. Masalah komputer. Misalnya: koneksi internet yang lambat, spesifikasi komputer yang ketinggalan jaman dan tidak sesuai kebutuhan.
7. Rekan kerja yang tidak jujur
8. Anak buah yang kurang cakap
9. Rekan kerja yang tidak sopan atau berperilaku kasar
10.Atasan yang menyalahgunakan kekuasaan.
Sumber metrotvnews.com Read More..
Label:
Leadership
Jangan Tertipu Dengan Amalmu!
Seorang muslim jika melakukan beberapa amal ibadah dan taqarrub kepada Allah akan merasakan hatinya tentram, jiwanya tenang, menerima serta qana’ah dengan pemberian Allah Ta’ala. Bahkan, terkadang lahir dalam dirinya perasaan sudah memberikan hak-hak Allah. Terkadang perasaan ini mendatangkan kekaguman dan bangga dengan ibadahnya.
Orang-orang shaleh tidak akan melakukan hal tersebut. Karena orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu kepada Allah dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, dia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah radliyallaahu 'anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab man qatala li al Riya wa al sum’ah istahaqqa al naar, no. 1905)
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya."
Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj untuk mengucapkan istighfar setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadha haji. Hal ini sebagai penyempurna dan kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 198-199)
Syaikh al-Sa'di mengatakan, "Beginilah seharusnya yang dilakukan hamba, setiap selesai dari melaksanakan ibadah dia beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan berbangga di hadapan Tuhannya."
Dalam surat lain Allah menjelaskan,
الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
"(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (QS. Ali Imran: 17)
Imam al Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) kepada Allah.
Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban)
Jangan Bersandar Pada Amal
Bersandarkan pada amal saja akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta’ala. Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun dan Mahapenyayang.
Masuk Surga Bukan Karena Amal
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا
"Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga." Mereka bertanya, "tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)." (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)
Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada Allah.
Tidak layak dia bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi, "Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari kalangan manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antaramu, maka tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari kalangan manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kamu, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga." (HR. Muslim dari Abu Dzar al Ghifari, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam)
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Orang-orang shaleh tidak akan melakukan hal tersebut. Karena orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu kepada Allah dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, dia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah radliyallaahu 'anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab man qatala li al Riya wa al sum’ah istahaqqa al naar, no. 1905)
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya."
Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj untuk mengucapkan istighfar setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadha haji. Hal ini sebagai penyempurna dan kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 198-199)
Syaikh al-Sa'di mengatakan, "Beginilah seharusnya yang dilakukan hamba, setiap selesai dari melaksanakan ibadah dia beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan berbangga di hadapan Tuhannya."
Dalam surat lain Allah menjelaskan,
الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
"(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (QS. Ali Imran: 17)
Imam al Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) kepada Allah.
Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban)
Jangan Bersandar Pada Amal
Bersandarkan pada amal saja akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta’ala. Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun dan Mahapenyayang.
Masuk Surga Bukan Karena Amal
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا
"Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga." Mereka bertanya, "tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)." (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)
Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada Allah.
Tidak layak dia bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi, "Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari kalangan manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antaramu, maka tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari kalangan manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kamu, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga." (HR. Muslim dari Abu Dzar al Ghifari, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam)
Sumber www.voa-islam.com Read More..
Label:
Islam
Langganan:
Postingan (Atom)






