Laman

Selasa, 01 Februari 2011

Perangi Islam, AS Rangkul Kelompok Modernis, Tradisionalis dan Sufi

Isu-isu tentang intoleransi, kekerasan fisik, radikalisme agama, dan deradikalisasi yang digulirkan oleh berbagai LSM liberal, ternyata agenda kampanye anti syariat Islam, adudomba antar kelompok Islam (devide et impera), pelemahan, dan penyesatan akidah.

Hal itu diungkap Direktur An Nasr Institute For Strategic Policy, Munarman SH, dalam sebuah diskusi terbatas dengan sejumlah pimpinan ormas Islam di Jakarta, (12/1/2011). Munarman merujuk data rahasia itu dari sebuah dokumen berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies,” yang dikeluarkan oleh Rand Corporation, sebuah lembaga riset di AS. Dokumen itu menjabarkan sejumlah strategi untuk menghantam kelompok Muslim fundamentalis.

Munarman juga membeberkan aktor utama, bahasan, agenda, alur isu dan program serta strategi antek-antek AS dan Zionis Yahudi yang selama ini mendiskreditkan kelompok Islam dengan berbagai stigmatisasi, seperti fundamentalis, radikal, intoleran, dan terorisme.

Ada beberapa NGO yang sering mengangkat pokok bahasan soal toleransi, intoleransi, pluralisme, moderasi, radikalisasi agama, terorisme, dan demokrasi. Sebut saja seperti Setara Institute, Moderate Muslim Society (MMS), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Rand Corporation. Keempat NGO ini selalu kompak dalam mengangkat isu yang sama tentang topic tersebut.

BNPT misalnya sering mengangkat pokok bahasan tentang Darul Islam (DI), Negara Islam Indonesia (NII), Jamaah Islamiyah (JI), terorisme, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Setara Institute, MMS, dan LSM liberal lainnya kerap mengangkat isu tentang intoleransi, kekerasan fisik, radikalisme agama.

Agenda yang mereka gulirkan merupakan satu paket dalam rangka mengkampanyekan anti syariat Islam dan anti formalisasi syariat, membenturkan kelompok Islam (devide et impera), pelemahan, penyesatan dan penghapusan akidah, anti jihad, membelokkan jihad, memusnahkan jihad, pengakuan dan memuliakan agama lain benar, persamaan agama dan kontrol atas Islam dan umat Islam.

Belakangan, program bersama itu disebut-sebut sebagai program deradikalisasi. Sasaran bidiknya adalah ormas Islam, majelis taklim, para kiai dan ustadz/ustadzah, berbagai institusi perguruan tinggi, dan masyarakat. Untuk jangka panjang, program deradikalisasi yang dikembangkan oleh BNPT bekerjasama dengan LSM liberal, bisa menghasilkan pola pandang yang bisa melemahkan dan merapuhkan akidah umat Islam. Sehingga yang muncul adalah pimpinan ormas Islam, ustadz, kiai, mahasiswa, dan masyarakat Muslim yang anti syariat Islam, anti jihad, bersikap plural, sekuler dan liberal. Bahkan bukan tidak mungkin, murtad dengan sendirinya.

Adapun proses alur isu dan program yang digulirkan, bermula dari Zionis international, US Government, NGO International (seperti USAID, Asia Foundation dsb), LSM local, hingga kepada Rezim Pemerintah/BNPT.

Perlu juga diketahui, sumber rekrutmen antek-antek AS dan Zionis Yahudi itu biasanya merangkul intelektual dan akademisi muslim yang liberal dan sekuler, ulama muda yang moderat, komunitas-komunitas aktivis, kelompok-kelompok perempuan yang terlibat dalam kampanye kesetaraan, penulis dan jurnalis moderat.

Munarman juga membeberkan actor utama yang selama ini mengebiri Islam dan kelompok Islam di dunia internasional. Dari Rand Corporation terdapat actor utama, seperti: Angel Rabasa, Cheryl Bernard, Lowell H. Schwartz, Peter Sickle, Kim Cragin. Kemudian ada Ross Johnson dari CIA, Steven Cook dari Council on Foreign Religion, Micahel Whine dari British Jews, lalu ada J. Scott Carpenter dan Alberto Fernandez dari US State Secretary (Deplu AS). Aktor utama ini dikendalikan oleh kekuatan Zionis Internasional.

Lebih jauh Munarman juga membongkar alokasi dana untuk menyudutkan Islam di belahan dunia. Dari Smith Richardson Foundation disebarkan melalui NGO internasional lainnya, seperti NDI (National Democracy Institute), NED (National Endowment For Democracy), IRI (International Republican Institute), Asia Foundation, USAID, CSID (Center For The Study of Islam and Democracy).

Dana internasional (founding agency) itu kemudian dialokasi lagi kepada LSM-LSM local di Tanah Air atau yang disebut antek-antek local. Sebut saja seperti: Setara Institute (Hendardi, Bonar TN, Azyumardi Azra), Moderate Muslim Society/MMS (Zuhairi Misrawi), Yayasan Fahmina Cirebon, Maarif Institute, Wahid Institute, ICIP, Satgas BOM (Gorries Merre dan Petrus Gplose), BTPT (Ansyad Mbai), JIL (Ulil Absar Abdalla), Media (Kompas, Tempo, Jawa Pos).

Ada beberapa strategi dan taktik yang direkomendasikan Rand Corporation untuk kemudian diteruskan kepada LSM local berpaham Sepilis. Strategi itu, meliputi:

1. Melawan interpretasi mereka tentang Islam dan menampakkan ketidakakuratannya
2. Mengungkap hubungan mereka dengan kelompok dan tindakan yang illegal.
3. Mempublikasikan konsekuensi tindak kekerasan mereka.
4. Mendemonstrasikan ketidakmampuan mereka dalam memimpin untuk meraih pembangunan yang positif bagi negara dan komunitas mereka.
5. Menyebarkan pesan khususnya kepada generasi muda, penduduk tradisionalis yang saleh, kelompok minoritas di Barat dan kepada perempuan.
6. Mencegah memperlihatkan penghormatan dan kekaguman terhadap kekerasan kaum fundamentalis ekstremis dan teroris.
7. Menstigma mereka sebagai pihak perusak dan pengecut dan bukan sebagai pahlawan.
8. Mendorong para jurnalis untuk menginvestigasi isu-isu korupsi, sikap hipokrit dan tindakan amoral kelompok fundamentalis dan teroris

MAKAR JAHAT ANTEK-ANTEK AS

Untuk mendukung kelompok modernis guna melawan kaum fundamentalis, di antaranya: mempublikasikan dan mendistribusikan hasil kerja mereka dengan biaya yang disubsidi. Mendorong mereka menulis untuk massa dan untuk pemuda memasukkan pandangan-pandangan mereka ke dalam kurikulum pendidikan Islam

Kemudian, memberikan mereka platform public, menyediakan opini dan sikap mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang agama sebagai tandingan kaum fundamentalis dan tradisionalis yang memiliki website, rumah produksi, sekolah, institute dan berbagai kendaraan lain dengan tujuan untuk menghambat pemikiran kaum fundamentalis dan tradisionalis.

Selanjutnya, memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai pilihan counterculture bagi pemuda muslim yang belum terpengaruh. Memfasilitasi dan mendorong kesadaran terhadap budaya dan sejarah pra-Islam dan yang tidak islami melalui media dan kurikulum di negara-negara yang relevan. Membantu pembangunan organisasi sipil yang independen untuk mempromosikan budaya sipil dan mendorong penduduk lokal untuk mendidik diri mereka tentang proses politik dan mengartikulasikan pandangan-pandangan mereka.

Adapun, strategi untuk kaum tradisionalis adalah sebagai berikut: Mempublikasikan kritik terhadap kekerasan fundamentalis dan kaum ekstremis, mendorong munculnya pertentangan antara tradisionalis dan fundamentalis, menghambat aliansi antara kaum tradisionalis dan fundamentalis, mendorong kerjasama antara kelompok modernis dan tradisionalis yang lebih dekat dengan kelompok modernis, mendidik kelompok tradisionalis untuk memberikan bekal kepada mereka agar dapat berdebat melawan kelompok fundamentalis karena kelompok fundamentalis dianggap sering memiliki retorika yang lebih superior.

Selanjutnya, meningkatkan citra dan profil kelompok modernis di institusi tradisionalis, membedakan berbagai aliran tradisional dan mendorong mereka agar memiliki persamaan dengan kelompok modernis, mendorong popularitas dan penerimaan kelompok Sufi.

Sementara itu strategi untuk melawan kelompok fundamentalis, meliputi: Melawan interpretasi mereka tentang Islam dan menampakkan ketidakakuratannya, mengungkap hubungan mereka dengan kelompok dan tindakan yang illegal, mempublikasikan konsekuensi tindak kekerasan mereka, mendemonstrasikan ketidakmampuan mereka dalam memimpin untuk meraih pembangunan yang positif bagi negara dan komunitas mereka.

Lalu, menyebarkan pesan khususnya kepada generasi muda, penduduk tradisionalis yang saleh, kelompok minoritas di Barat dan kepada perempuan, mencegah memperlihatkan penghormatan dan kekaguman terhadap kekerasan kaum fundamentalis ekstremis dan teroris, menstigma mereka sebagai pihak perusak dan pengecut dan bukan sebagai pahlawan, mendorong para jurnalis untuk menginvestigasi isu-isu korupsi, sikap hipokrit dan tindakan amoral kelompok fundamentalis dan teroris, mendorong perpecahan di antara kelompok fundamentalis. [desastian]
Read More..

Senin, 24 Januari 2011

Penarik Becak Siap menyumbang Rp.1 Trilyun Perbulan untuk Gaji Presiden dengan 5 Syarat

SOLO (voa-islam.com) – Rakyat miskin dan tukang becak prihatin dengan curhat gaji Presiden. Sebagai bentuk sindiran, mereka siap patungan menyumbangkan penghasilan becaknya untuk menaikkan gaji Presiden menjadi 1 trilyun perbulan. Tapi dengan 5 syarat.

Curhat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ‘mengeluhkan’ gajinya tidak naik selama tujuh tahun terakhir, mendapat ‘sambutan’ meriah di mana-mana. Di Solo, bahkan ada sekelompok orang yang menamakan diri “Pendukung Kenaikan Gaji Presiden.”

Puluhan orang ini melakukan aksi damai mendukung gaji presiden dinaikkan menjadi Rp 1 triliun per bulan di Bundaran Gladag, Solo, Jawa Tengah, Senin (24/1/2011). Uniknya, sebagian besar dari massa aksi adalah para tukang becak yang dalam sepanjang aksinya memarkir becaknya dengan rapi di pinggir Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari lokasi aksi.

Massa tukang becak ini mengaku jengah atas curhat presiden soal gajinya yang tidak pernah naik. Menurut mereka, curhat itu sama sekali tidak mempertimbangkan rasa keadilan di saat banyak rakyat yang masih menderita karena berbagai persoalan yang menimpa, justru memimpin negara mempersoalkan gajinya.

Sebagai sindiran yang menohok, kelompok tersebut justru memberikan dukungan agar gaji presiden dinaikkan menjadi Rp 1 triliun per bulan. Namun sebagai syaratnya, SBY harus memenuhi lima syarat yang diajukan.

Kelima syarat itu adalah mampu membebaskan Indonesia pengangguran, menjamin Indonesia bebas dari konflik dengan latar belakang apapun, mampu mewujudkan Indonesia swasembada pangan, mampu memberantas mafia hukum, dan mampu menyelesaikan semua persoalan seperti kasus Century dan BLBI.

“Jika semua syarat itu dapat dipenuhi maka kami mendukung sepenuhnya gaji presiden naik menjadi Rp 1 triliun per bulan. Tapi jika tanpa prestasi dan bahkan gagal menjalankan amanat rakyat, sama sekali tidak masuk akal jika presiden mengeluhkan gajinya,” ujar Bambang Saptono berapi-api.

Sentilan dalam aksi itu menarik perhatian pengguna jalan, lantaran Bambang Saptono berdialog interaktif bersama puluhan pengemudi becak.

“Apakah saudara-saudara bersedia jika gaji Presiden satu triliun rupiah per bulan?” tanya Bambang.

“Bersedia,” jawab para tukang becak.

“Uangnya dari mana?’ tanya lagi Bambang.

“Dari Gayus,” teriak tukang becak.

“Terus rakyat makan apa?,” lanjut Bambang.

“Makan tikus,” jawab mereka.

Sementara itu, orator lainnya, Joni, menyindir curhat gaji Presiden SBY dengan orasi “Kami Sayang Pak SBY.” Joni menyatakan setuju kenaikan gaji SBY menjadi 1 trilyun, bahkan ia rela jika harus iuran untuk nomboki gaji presiden.

“Kalau tidak dari kami, uangnya bisa dari Gayus atau utang luar negeri, silakan kami sangat setuju,” sindir Joni. “Kami cinta dengan presiden kami. Kami sayang dengan Pak SBY,” kata Joni kepada rekan-rekannya sesama tukang becak. “Rp 1 triliun pun kami sangat setuju. Kenapa, karena kami sayang dengan Pak SBY,” tambahnya.

Gaji presiden Rp 63 juta per bulan dan dana taktis Rp 2 miliar per bulan, menurut para tukang becak, sudah lebih dari cukup. Jika dibandingkan dengan penghasilan Joni dkk, uang itu sudah berlipat ratusan kali. Maka ia menilai seorang presiden kurang pantas curhat mengenai gaji di saat rakyat tengah dilanda kesulitan ekonomi.

Sejumlah poster dan spanduk bertuliskan kecaman dan sindiran dibawa oleh massa aksi. Di antaranya “Rakyat makan tikus, Pejabat makin rakus”, “Katanya berjuang, Kok mikir uang”, “Awak Gede Gaji Gede” (badan besar gaji besar), “Gajinya 1 Triliun, Presiden Malah Pikun”, “bohong=nyolong”, dan lain-lainnya.

Aksi jalanan para tukang becak tersebut penuh dengan gelak tawa karena banyak peserta aksi yang mengekspresikan sikapnya dengan cara masing-masing. Bahkan ada yang mengaku kurang mengetahui orasi-orasi yang disampaikan temannya.

“Pokoknya kita dukung saja kalau Pak Presiden minta kenaikan gaji. Saya tidak tahu gajinya sekarang berapa, yang penting dinaikkan saja. Siapa tahu nanti setelah gajinya naik, Pak Presiden pengin naik becak saya lalu memberikan bayaran yang besar juga,” ujar seorang peserta aksi.

Koordinator aksi, Bambang Saptono, menilai aksi ini merupakan bentuk apatisme masyarakat mengenai ulah para pemimpin. “Mereka tidak melihat rakyatnya sengsara, mati kelaparan dan keracunan makan,” katanya.

Ia berharap presiden dan para pemimpin bangsa tidak terlalu berpikir mengenai gaji, karena menurutnya, para pejabat sudah berkecukupan dalam kebutuhan sehari-hari. “Presiden kan jabatan terhormat, jadi saru dan tidak pantas jika mengeluh tidak pernah naik gaji,” pungkasnya. [silum/dtk]
Read More..

Minggu, 23 Januari 2011

SBY Keluhkan Gaji, Rakyat Siapkan Gerakan Koin untuk Gaji Presiden SBY

JAKARTA (voa-islam.com) – Keluhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal gajinya yang tak pernah naik selama tujuh tahun disambut dengan gerakan pengumpulan koin untuk menaikkan gaji presiden. Benarkah?

Bak gayung bersambut. Keluhan soal gaji presiden yang tidak naik selama 7 tahun menuai bermacam reaksi dari publik. Selain kritik tajam dari para politisi dan pakar komunikasi, keluhan SBY ditanggapi lain oleh rakyat di jagat maya.

Para facebooker memahami pernyataan Presiden SBY sebagai ungkapan minta naik gaji, sehingga di situs jejaring pertemanan Facebook muncul berbagai gerakan moral untuk mengumpulkan koin yang akan disumbangkan untuk menaikkan gaji presiden. Salah satunya adalah group “Coin for President” yang dilaunching Defiyan Cori pada hari Jum'at, (21/1/2011). Dalam pesan pertamanya, Devian menyatakan, group itu dibuat sebagai ‘solidaritas’ terhadap keluhan Presiden SBY soal gajinya yang belum pernah naik dalam kurun waktu 7 tahun.

"Mari bersama-sama kita galang dana untuk membantu Saudara Soesilo Bambang Yudhoyono yang saat ini kebetulan menjadi Presiden RI untuk memenuhi permintaan kenaikan gajinya supaya meningkatkan kesejahteraannya dan keluar dari kemiskinan di tengah rakyat Indonesia yang kaya raya melalui COIN for PRESIDENT!" tulis Defiyan, sang empunya group. "Ya kita kasihan lihat Presiden kekurangan gaji kan," tambahnya.

Selain itu, muncul pula gerakan “Koin Untuk Presiden SBY” di Facebook. Gerakan “Koin Untuk Presiden SBY” ini mengingatkan kita pada “Koin Peduli Prita”. Prita merupakan ibu dua anak, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten, gara-gara curhatnya melalui surat elektronik yang menyebar di internet mengenai layanan RS Omni Internasional Alam Sutera.

Jika “Koin Peduli Prita” dibuat untuk membantu Prita yang harus membayar denda Rp204 juta kepada RS Omni. Bagaimana dengan “Koin Untuk Presiden SBY”? Kabarnya, gerakan tersebut untuk membantu Presiden SBY yang mengeluh gajinya tidak naik selama tujuh tahun.

Aksi serupa juga muncul di Blackberry Messenger (BBM) dengan nama gerakan “Sayang SBY” dengan mengumpulkan Koin Rp100 untuk membantu keluh kesah SBY soal gajinya yang belum naik selama tujuh tahun.

“Senin Tgl 24 Januari 2011 Tempat Bundaran Hotel Indonesia. sebagai warga negara kita yang dipilih rakyat sedang mengalami kesusahan. Saatnya kita sebagai rakyat membantu kesulitan beliau dengan menyumbangkan koin cinta SBY Rp 100,” katanya di BBM.

Meski gerakan koin untuk menaikkan gaji presiden ini sangat marak, namun tak jelas apakah ini sungguhan atau sekedar bentuk sindiran dari masyarakat melalui sejumlah situs jejaring sosial.

Sekadar diketahui, gaji SBY sesuai dengan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara dan Lembaga Kepresidenan (RKAKL) 2006 sekira Rp 62 juta dan dana taktis mencapai Rp2 miliar.

Seperti diberitakan voa-islam sebelumnya, dalam pidato penutupan Rapim TNI/Polri 2011 di Jakarta, Jumat (21/1/2011), Presiden SBY curhat soal gajinya yang tak kunjung naik dalam kurun waktu tujuh tahun. “Sampaikan, ini tahun ketujuh, gaji presiden belum naik. Tapi saya ingin semua dapat kelayakan gaji,” ujarnya.

Curhat Presiden itu cukup mengagetkan, karena menurut majalah bergengsi asal Inggris, The Economist, gaji presiden di Indonesia adalah gaji dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara yang disurvei tahun lalu. Dibandingkan gaji pemimpin negara lain, besarnya gaji presiden di Indonesia lebih tinggi 12 kali dari gaji PM Cina dan lebih tinggi 30 kali dari gaji PM India. [silum/dbs]
Read More..

Kamis, 20 Januari 2011

Allahu Akbar! rakyat Tunisia menuntut tegaknya syariat Islam dan negara Islam

Untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, pemuda Muslim melaksanakan sholat berjamaah di jalan-jalan di kota Tunisia. Hal ini menjadi mungkin setelah digulingkannya pemerintahan diktator Zine El Abidine Ben Ali.

Sebelumnya, Menteri Pembangunan Daerah, Silvan Shalom menyatakan keprihatinan tentang penggulingan penguasa diktator Ben Ali, karena "langkah ini akan memfasilitasi pergerakan Islam di negeri ini".

Shalom, mantan penduduk asli komunitas Yahudi di Tunisia, mengakui bahwa Barat memang buta tentang pelanggaran HAM oleh Ben Ali.

"Sekarang, setelah jatuhnya rezim ini, ada kekhawatiran bahwa pergerakan Islam yang telah dilarang, tidak hanya akan datang kembali namun akan merebut kekuasaan," keluh bajingan Zionis ini.

Selama kerusuhan, kepolisian Tunisia menangkap sejumlah orang asing bersenjata, termasuk satu dengan paspor Jerman, yang diduga mengorganisir serangan dan penembakan.

Perlu diingat bahwa Zionis sering menggunakan paspor palsu dari negaranegara lain dan mengirimkan kelompok terorisnya untuk melakukan pembunuhan dan serangan teroris.

Sementara itu, rakyat Tunisia yang tidak puas dengan hasil kudeta terhadap pemerintah negara itu, menyerukan perubahan radikal dalam politik.

Pada 15 Januari, rakyat Tunisia melakukan aksi massa menuntut pembebasan tahanan politik dari penjara diktator. Demonstrasi dilakukan dengan dama dan didukung oleh militer dan polisi Tunisia.

Aksi yang menarik ribuan orang, secara terbuka menyeru untuk mendirikan negara Islam dan menegakkan syariah Islam dan untuk memastikan konsolidasi negerinegeri Muslim.

Selain itu, para demonstran menuntut laporan dari pemerintah terkait hubungan mereka dengan Amerika dan negara yang menyebut diri "Israel".

Para pemrotes Tunisia meneriakkan : "tidak ada jalan lain, tidak ada jalan lain, Islam satu-satunya solusi!" "Dengan jiwa kami, dengan darah kai, kami akan berkorban untuk Anda, wahai Islam!"

Berdiri di hadapan tentara Tunisia, mereka mengalamatkan kalimat ini untuk : "Kalian di Palestina, kalian di Irak, jatuhkan rantai penguasa dari leher kalian dan penuhi tugas Anda!" "Wahai tentara Muslim, kami siap bersama Anda, dengan darah kita, dengan jiwa kita, dan anak-anak kita! gulingkan rezim yang menindas!" Demonstrasi tersebut berlangsung tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. (haninmazaya/arrahmah.com)

sumber : arrahmah.com
Read More..

6 Tipe Karyawan Yang Dibenci Atasan

Performa kerja seseorang bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satunya bagaimana kita bersikap dan berperilaku di lingkungan kerja. Jangan berharap Anda bisa lama bekerja di suatu perusahaan jika tidak mempunyai inisiatif, motivasi atau berlaku kurang sopan.

Atasan adalah seseorang yang punya kredibilitas menilah apakah seorang karyawan memiliki performa yang baik atau buruk dalam pekerjaannya. Seperti apa tipe karyawan yang dinilai buruk oleh atasannya?
Berikut daftarnya, seperti dikutip dari Helium:

1. Penusuk Dari Belakang
Tipe karyawan ini suka menusuk rekannya dari belakang, baik itu karyawan baru atau lama yang berusaha meraih kesuksesan. Karena tidak ingin karyawan lain lebih berhasil darinya, dia kerap menjelekkan orang di depan atasan, menggosipkan rekan kerja lain setiap lima menit dan biasanya punya kesulitan bekerjasama dalam tim. Tipe ini juga sulit menerima orang baru dalam perusahaan, terutama jika orang tersebut lebih pintar, lebih berpengalaman dan penampilannya lebih menarik.

2. Kurang Motivasi
Tipe ini adalah karyawan yang kegiatannya hanya berkeliling ruangan kantor, mengajak setiap orang mengobrol dan tidak pernah benar-benar selesai mengerjakan tugasnya. Banyak kegiatan kurang penting yang dia lakukan, seperti bolak balik ke toilet lebih dari 10 kali sehari, menelepon orang yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dan cenderung bergantung pada orang lain untuk membereskan pekerjaannya. Karyawan seperti ini biasanya lebih banyak bicara daripada bertindak.

3. Terlalu Banyak Alasan atau Suka Berbohong
Karyawan ini tidak pernah mau disalahkan atau bertanggungjawab terhadap masalah yang ditimbulkannya. Dia cenderung melempar kesalahan pada orang lain dengan berjuta alasan. Tipe ini juga suka mencari alasan yang bertele-tele jika telat masuk kantor dan suka mangkir dari tugas tambahan yang diberikan padanya.

4. Sulit Beradaptasi

Setiap perusahaan harus melakukan sejumlah perubahan agar maju dan berkembang. Namun ada tipe karyawan sulit beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Tidak peduli berapa banyak pelatihan dan pendidikan yang diberikan padanya, dia tidak pernah siap dengan segala perkembangan dan inovasi baru. Tipe ini lebih memilih bekerja dengan caranya sendiri dan tidak bisa beradaptasi dengan metode baru yang mungkin lebih aman, mudah, cepat dan efisien. Hal ini membuatnya tertinggal dari rekan-rekan kerja lainnya.

5. Bermasalah dengan Komunikasi

Tipe ini tidak bisa berkomunikasi secara efektif. Dia suka berkata dan bertingkah kurang sopan di lingkungan kerja, dan cenderung berlaku kasar terhadap karyawan lain atau klien. Perilaku yang agresif dan defensif ini umumnya disebabkan karena mereka tidak bisa mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Saat menghadapi masalah dalam pekerjaan, tipe ini cenderung diam dan enggan menanyakan solusinya kepada atasan atau rekan lain. Sehingga menjadikannya mudah frustasi dan stres.

6. Suka Mengeluh

Selalu mengeluh setiap mengerjakan tugas yang diberikan, tidak bersemangat saat kerja dan kerap memprotes kebijakan perusahaan atau kesal saat harus kerja lembur.

source: http://kamarsolusi.com
Read More..

Rabu, 19 Januari 2011

Anggaran Gedung Baru DPR Setara 21 Ribu Rumah Korban Bencana

Di tengah-tengah kritikan publik, DPR RI tetap bersikeras melanjutkan rencana pembangunan gedung DPR RI baru yang menelan dana senilai Rp 1,31 triliun. Dari dana tersebut, Rp 1,16 triliun digunakan untuk biaya konstruksi dan manajemen. Sementara sisanya digunakan untuk biaya IT, sistem keamanan, dan furnitur.

Urgensi pembangunan gedung baru setinggi 36 tingkat dan seluas 156.586 meter persegi itu dipertanyakan.

Indonesia Budget Center menyatakan, angka Rp 1,3 ini setara dengan:

1. Dana untuk BOS SMP bagi 2,02 juta siswa. Berdasarkan kebijakan BOS Tahun 2010, dana BOS SMP Rp 575.000 per tahun

2. Dana pembangunan 16.000 ruang kegiatan belajar atau kelas baru. Sekitar 16.000 kelas baru ini dapat menampung setidaknya 640.000 siswa (dengan asumsi 1 ruang kelas dapat menampung 40 siswa). Berdasarkan Permendiknas 19/2010, standar biaya 1 ruang kelas baru sekitar Rp 80 juta.

3. Dana bagi 19,5 juta peserta Jamkesmas baru (biaya Jamkesmas saat ini sekitar Rp 66.700 per tahun).

4. Dana untuk membangun 21.000 unit rumah baru di Wasior, Padang, Mentawai, dan Yogyakarta-Jateng. Berdasarkan desain dari Teknik Sipil ITS, biaya pembangunan satu unit rumah baru sekitar Rp 60 juta.

5. Dana untuk menaikkan subsidi pupuk sebesar 8 persen. Subsidi pupuk 2011 sebesar Rp 16,3 triliun, atau turun 11 persen dibandingkan tahun 2010 (Rp 18,4 triliun)

Sumber : ruanghati.com
Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...